Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana

Surat ini aku tulis untuk diriku sendiri di masa lalu dan untuk aku baca ulang di masa depan.

Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana — Gigip Andreas
Jiyeon Park via Unsplash
1

Di kamar yang sepi dan sempit dan tidak ada televisi, tahun 2002, kau menangis karena ibu tidak membelikan kau tamagochi. Beberapa minggu sebelumnya, kau menangis karena ibu tidak membelikan kau tamiya; beberapa minggu setelahnya, kau menangis karena tidak diajak main oleh anak-anak yang punya tamagochi dan tamiya.

Ketika tamagochi mulai usang di tangan anak lain dan masih asing di tangan kau, pada suatu sore, kau akhirnya punya satu dari ibu. Ibu beli di Sukajadi, katanya. Hari itu, tahun 2002, ketika kau masih SD kelas satu, kau senang meskipun harus main sendiri karena anak lain sudah tidak main tamagochi.

Hari ini, tahun 2019, aku malu mengingat bocah bodoh yang telah membuat ibu bersusah payah meminjam uang ke sana ke sini dan ke situ hanya untuk membelikan kita tamagochi.

2

Setelah kau pindah rumah ke Tanjungsari dan menjadi siswa baru di sebuah sekolah swasta, kau dapat surat cinta dari anak kelas sebelah bernama Sherly. Pada hari libur, kau naik sepeda ke rumahnya yang hanya beberapa blok dari rumah kau. Di ruangan kosong yang hanya ada satu kursi, kau menjawab dengan bahasa isyarat, mengiakan dia yang meminta kau menjadi kekasihnya.

Satu minggu berlalu dan kau membuat Sherly bersedih sambil bertanya siapa yang kau pilih apakah dia atau tetangga sebelah kau yang sering kau ajak main sepeda itu. Kau tidak pernah memberi jawaban entah kenapa. Ketika kau pindah lagi ke Bandung, kau baru sadar telah kehilangan dua orang: gadis yang menyukai kau dan gadis yang kau sukai.

Bertahun-tahun yang lalu, pada awal-awal aku punya Facebook, berhari-hari aku habiskan waktu untuk mencari Salma dan tidak pernah kutemukan hingga sekarang. Aku tidak tahu mana yang lebih membuatku kesal: kau yang terlalu pengecut tidak berani menyatakan perasaan atau kau yang bodoh tidak pernah menanyakan nama lengkap si gadis penunggang sepeda.

3

Apabila kau masih membenci ayah karena satu dan banyak hal yang kau sendiri tidak mampu memahaminya, barangkali karena dia tidak pulang untuk beberapa waktu yang lama dan kau tahu penyebabnya pertengkaran sepasang kekasih, dan itu membuat kau jadi benci sekaligus takut pada pernikahan yang kau anggap bodoh, mohon berdamailah.

Pada tahun 2016, di D'Cubes Hangout Point di jalan Dipatiukur, menjelang tengah malam usai aku berbincang dengan beberapa kawan yang akan mengadakan acara sosial, salah satu orang yang anak psikologi ingin menunjukkan kebolehannya dalam membaca kepribadian. Dia memintaku menulis tanda tangan. Aku mau melakukannya karena aku penasaran, pun karena dia bukan anak astrologi.

Setelah memberi tahu beberapa hal positif dari diriku, orang itu bilang, "Garis yang kamu tarik ini menggambarkan dendam masa lalu. Maaf kalau salah, saya juga masih belajar, tapi saya tebak, kamu punya semacam rasa kesal yang belum selesai. Maaf, orang tua, ya?"

Di sepanjang jalan pulang, aku malu kepada diriku sendiri yang belum bisa memaafkan masa lalu. Padahal, kau tahu, ayah sudah meminta maaf kepada kau malam itu di ruang tamu, kau menangis entah mengapa entah untuk siapa. Mohon maafkanlah masa lalu karena cepat atau lambat aku akan menikah dan menjadi seorang ayah. Bantu aku menjadi ayah yang tidak membuat anaknya menarik garis dendam masa lalu di tanda tangannya.

4

Beberapa hari saat libur sekolah kau kabur dari rumah dan menginap di tempat Anggi, tahun 2012, saat kau dan Anggi sama-sama siswa berseragam putih abu kelas dua, kau banyak menghabiskan malam dengan alkohol dan kau merasa itulah hidup.

Ina, teman kau dan teman Anggi, bertanya apakah kalian akan terus seperti itu sampai tua nanti. Anggi hanya tertawa dan kau tidak punya jawaban. Kau menjawab, tetapi tentu saja jawaban asal yang tidak kau pikirkan matang-matang. Saat itu kau bahkan tidak tahu lulus sekolah mau jadi apa atau esok hari mau ke mana.

Suatu malam di kamar Anggi, ketika Anggi tidur lebih dulu setelah muntah-muntah kebanyakan minum alkohol, kau menyalakan televisi dan mengganti-ganti saluran karena bosan, lalu jari kau berhenti ketika layar menampilkan seseorang berbicara sendiri di atas panggung mengatakan apa saja yang kau tidak mengerti tetapi membuat kau tertawa, kau mulai tahu mau jadi apa.

Kau bilang ingin menjadi komedian karena hal itu bisa membuat orang tertawa. Kau senang membuat orang lain bahagia. Belakangan aku sadar dan ingin mengingatkan, kau bukan senang membuat orang tertawa, kau senang berkomedi untuk mengalihkan kesedihan sendiri.

Beberapa bulan yang lalu aku simpan topeng komedi kau. Istirahatlah, jika kau ingin sedih, silakan menangis dan aku akan di samping kau. Aku akan menanggung semua marah dan sakit kau karena tidak ada yang mampu melakukannya sebaik aku. Tidak ada orang yang bisa menyelamatkan kau selain aku.

5

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu."

Itu penggalan salah satu puisi Sapardi Djoko. Kira-kira, kayu itu adalah aku, api adalah kau, dan abu adalah kita saat ini. Kau membakar banyak hal dalam hidupku; aku kesulitan merangkai sisa-sisa pembakaran ulah kau. Namun, aku akan tetap mencintai kau seperti kau membenci diri sendiri: utuh dan seluruh.

Kau tahu? Aku ingin kau tetap membenci dan diselimuti rasa sedih. Aku ingin kau tetap jadi bagian dari diriku yang mengenal rasa sakit. Tanpa perasaan itu, kau bukan manusia. Kau adalah yang mengajari aku cara mencintai.

Tetaplah bersedih saat melihat orang lain terluka dan menjadi lebih sedih saat sadar tidak mampu menolong mereka. Teruslah menangis saat mendengar orang lain menderita dan menangislah lebih kencang saat tahu kau yang menjadi penyebabnya.

6

Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepada kau sebelum aku jadi tua dan lupa semuanya, tetapi sisi angkuhku berkata untuk tidak melakukannya. Kau tahu kenapa? Dia bilang, dia ingin orang lain yang menceritakan itu kepada kau.

Sudahlah, percaya saja. Suatu hari nanti, akan ada seseorang entah siapa yang mengenang aku dan kau dan menuliskannya dalam surat. Saat hari itu tiba, aku harap dia tidak menulis yang buruk-buruk tentang kita.

4 Komentar

  1. Wah... Aku sempat terkecoh dengan tokoh "kau" dan "aku" di awal cerita. Aku kira sebelumnya ada 2 tokoh yang sedang diceritakan.

    Padahal kedua tokoh adalah tokoh yang sama. Hanya saja perbedaannya "kau" adalah tokoh "aku" di masa lalu. Sedangkan, tokoh "aku" adalah seseorang di masa sekarang yang menyesali tokoh "kau".

    "Aku ingin kau tetap jadi bagian dari diriku yang mengenal rasa sakit." Kalimat ini memperkuat bahwa kau dan aku adalah 1 tokoh.

    Itu persepsi saya Kak
    Mohon maaf jika salah karena saya hanya pembaca.

    Semangat berkarya kakak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawabannya, betul.
      Terima kasih sudah membaca.
      Selamat berkarya juga!

      Hapus
    2. Padahal di bawah judul udah tertulis penjelasannya.

      Ini lu lagi banyak baca Aan Mansyur, ya? Pengaruhnya kentara banget.

      Hapus
    3. Lebih tepatnya lagi belajar menulis kayak dia. Bacanya, sih, udah lama. Cuma baru tertarik aja sama gaya Aan. Sebenarnya gaya A.S. Laksana juga menarik, cuma udah terlalu banyak bloger yang adopsi gaya bapak satu ini. Ya meskipun enggak sebanyak yang ala-ala Raditya Dika atau Alitt Susanto. Yah, intinya, cari-cari angin segar aja, Yog. Biar enggak jenuh menulis.

      Hapus