Saya Pembohong, Kamu Harus Percaya

Belajar meragukan hal-hal yang kamu anggap wajar atau kamu percayai sebelumnya.

Gigip Andreas — Jika Kamu Tidak Bisa Berhenti Berbohong
Kristina Flour via Unsplash
Kami ada di antara mobil yang terjebak macet di gerbang tol Jakarta arah Bandung—mobil lain entah dari mana mau ke mana. Untuk sekadar mengusir bosan, saya melempar pertanyaan retoris kepada sopir. Pertanyaan yang saya yakin dia juga tahu tidak perlu menjawabnya, tetapi akan tetap dijawab karena memang begitulah dia.

"Tapi jangan langsung percaya," ucapnya setelah selesai memberi jawaban, "jangan langsung percaya cuma karena ayah lebih tua darimu. Ilmu yang dimiliki seseorang, kan, enggak bisa diukur dari umur."

Saya termenung. Di saat banyak orang—termasuk pedagang, pejabat, pengajar, dan tentu saja penulis—sibuk berlomba-lomba ingin dipercaya, lelaki di sebelah saya malah menyuruh anaknya untuk meragukan perkataannya. Dia memberi saya kebebasan untuk terus dihantui rasa khawatir dan curiga.

Tahukah kamu kenapa di alinea sebelumnya saya memakai kata "anak" tanpa "kandung"? Sebab sampai saat ini saya belum tahu apakah saya anak kandung atau bukan. Untuk diketahui, zona kepercayaan berbeda dengan zona pengetahuan: yang pertama bersifat tertutup dan sukar diubah, yang kedua bersifat terbuka dan bisa ditambah (buku Mantra karya Deddy Corbuzier menjelaskan bahasan ini dengan baik).

Saya tidak tahu apakah saya anak kandung, tetapi saya percaya saya dibesarkan oleh orang tua kandung. Alasannya, saya tidak punya bukti yang kuat untuk tahu bahwa saya anak kandung mereka. Tentu ada kartu keluarga, tetapi bagaimana kalau itu hasil rekayasa? Tentu bisa mencocokkan DNA, tetapi bagaimana kalau cocok hanya karena kebetulan? Tentu ada saksi mata yang bisa saya tanya, tetapi bagaimana kalau mereka berbohong? Karena saya tidak punya bukti dan terlalu malas untuk membuktikan, saat ini saya hanya bisa percaya bahwa saya anak kandung.

Garis pembeda antara kepercayaan dan pengetahuan sangatlah tipis dan sering kali kabur. Kita kerap keliru menempatkan informasi, seperti misalnya, kita merasa mengetahui berbagai hal yang sebenarnya kita percayai. Kamu tahu dia setia atau kamu percaya dia tidak akan pernah selingkuh? Tentu saja kamu percaya karena kamu tidak tahu kapan seseorang akan berkhianat.

Pertanyaannya sekarang, kenapa kita bersikeras ingin dipercaya? Persoalannya, kita tahu betul bahwa kita adalah pembohong yang andal—saya sengaja memakai kata "andal" supaya kamu mau membuka kamus dan berpikir ulang sebelum menyetujui pertanyaan dan persoalan yang barusan saya sebutkan.

Ya, saya juga pembohong yang andal. Saya tahu kamu pun demikian. Kita adalah mahluk yang entah bagaimana caranya bisa sangat menguasai kemampuan satu ini, kemampuan yang tidak pernah diajarkan secara formal. Kapan kamu terakhir berbohong? Pada siapa? Untuk tujuan apa? Serta kenapa? Tentu saja tidak perlu dijawab karena saya tidak peduli, karena sekalipun kamu jawab saya sangsi kamu jujur, karena meskipun kamu jujur saya ragu jawabannya tepat, karena besar kemungkinan kamu lupa kapan terakhir kali kamu berbohong, pada siapa, untuk tujuan apa, serta kenapa.

Pertanyaan kedua, kenapa kita mudah memercayai orang yang kita tidak tahu kapan dia akan berbohong? Kita kerap ketagihan untuk mengamini perkataan orang-orang yang kita percayai selalu jujur. Kita, entah kenapa, sangat senang memenjarakan diri dalam zona kepercayaan. Saya sangsi kamu mau meluangkan waktu untuk ragu ketika membaca status di media sosial, mendapat pesan siaran di WhatsApp, atau mendengar ucapan dari seseorang yang kamu sayangi.

Masalahnya tidak selalu tentang siapa yang berbicara, tetapi apa yang mereka coba sembunyikan ketika bicara. Pernahkah kamu berpikir bahwa "aku cinta kamu" artinya tidak melulu dia mencintaimu? Semestinya kamu curiga dan mempertimbangkan pelbagai kemungkinan, seperti, bisa saja artinya dia ingin mencium pipi dan bibirmu, memegang payudaramu, atau bahkan menidurimu.

Seandainya banyak gadis mau bersikap khawatir dan curiga, saya yakin mereka akan selamat dari patah hati akibat ditinggal setelah ditiduri. Dalam hal ini, tentu saja saya setuju banyak lelaki berengsek sering berbohong dengan "aku cinta kamu" yang mahaklise itu, tetapi saya percaya tidak semua "aku cinta kamu" selalu ingin meniduri. Beberapa lelaki mengucapkan itu dengan jujur.

Akhir kata, harus saya sampaikan, ketagihan untuk mudah memercayai segala sesuatu efeknya lebih berbahaya dari kebiasaan berbohong. Oleh karena itu, mulai sekarang cobalah belajar meragukan hal-hal yang kamu anggap wajar atau kamu percayai. Maksudnya, iya, jika kamu memercayai saya dan menyetujui tulisan ini, saya mohon ragukanlah.

15 Komentar

  1. Keraguan adalah setengah dari keyakinan (Al Ghazali).

    BalasHapus
  2. Ehem...tp kok aku percaya aja ya sm kau .aha

    BalasHapus
  3. Termasuk meragukan adanya Tuhan juga enggak nih? Hahahahaha.

    Omong-omong soal bohong, yang lucu dari hal itu adalah jika seseorang disuruh bohong, dia justru bakal bingung dan mungkin jujur. Misalnya, anak kecil yang dititipi pesan oleh ibunya: kalau ada yang cari Ibu, bilang aja lagi pergi ya, Dek. Ketika betulan ada yang mencari ibunya, lalu ditanya pergi ke mana, bocah itu bisa-bisa langsung menjawab: ibu enggak pergi, ada tuh di rumah lagi tiduran.

    Sekalipun kejadian itu yang dititip pesan bukan anak kecil, melainkan orang dewasa, dia mungkin bisa juga kelepasan atau jawabnya lama, au ae mesti berpikir dulu. Karena kebohongannya enggak alami dari dirinya sendiri. Sekian ke-sotoy-an saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, termasuk meragukan eksistensi Tuhan. Meragu untuk mencari kebenaran dan lebih meyakinkan diri, enggak asal menelan segala informasi. Hasilnya bisa jadi enggak percaya Tuhan, pindah agama dan ganti Tuhan, atau semakin yakin bahwa Tuhan yang kita sembah memang benar. Tergantung proses pencarian dan pola pikir masing-masing.

      Soal konsep berbohong yang enggak alami itu, setuju. Mungkin karena untuk bikin kebohongan pun kita perlu logis dan menyusun kerangka, dan mungkin itu juga yang bikin kita kerap sulit berbohong secara refleks meskipun dari diri sendiri. Hahaha.

      Hapus
  4. Pada dasarnya, semua ketagihan itu nggak baik, Gip. Bulan lalu aku ketagihan kopi, lalu diare berkepanjangan sampai dua minggu. Wkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya baru tahu ada orang diare berkepanjangan karena kopi. Lain kali minum jamu, May. Siapa tahu lebih aman. Haha.

      Hapus
  5. Setuju, memercayai segala sesuatu sesungguhnya punya efek yang buruk bagi diri kita bahkan orang lain. Misal, ketika adanya pesan siaran soal keburukan calon pemimpin negara (kebetulan di WAG nyokap suka ada pesan begini). Ketika kita memercayai info tersebut lalu menyebarkannya lagi ke kelompok atau orang lain tanpa mengecek sumber kebenarannya, sesungguhnya kita sudah merugikan diri sendiri (karena pandangan tertutup oleh info yang sama sekali diragukan keakuratannya) dan kelompok lain juga ikut tertutupi pandangannya akibat ulah kita sendiri dengan dalih "cuma meneruskan dari grup sebelah". Satu sisi hal tersebut juga merugikan calon pemimpin negara siapapun itu yang namanya disebutkan di dalam info tersebut.

    Soal belajar meragukan sesuatu yang dianggap wajar dan dipercayai itu gue setuju banget. Apalagi dalam kasus percintaan~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat merugikan karena menyebar berita bohong atau hoaks bisa terkena sanksi pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak satu miliar rupiah (Pasal 45A UU ITE). Selain merugikan diri sendiri, iya, menyebar berita bohong juga menyesatkan orang lain.

      Tahun politik memang selalu begitu, ya. Untungnya keluarga besar saya selalu adem. Kalau pesan siaran, saya paling banyak dapat anekdot ala bapak-bapak warung kopi dan meme khas Facebook. Hahaha.

      Hapus
  6. aku emang selalu gak percaya tuh hehe. dengan gak percaya, kita jadi dipaksa mikir berkali2 dan lebih rajin nyari kebenaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Inti dari tulisan ini adalah mencari kebenaran.

      Hapus
  7. Aku orangnya kadang gampang percayaan, kadang gak gampang percaya.
    biasanya kalo udah kenal lama, percaya aja. Tapi beberapa bulan belakangan jadi agak sulit percaya orang.. bahkan keluarga sendiri. Kadang mempercayai sesuatu bisa jadi hal baik, tapi bisa juga jadi hal yg buruk kalau berlebihan sih. Papaku misalnya, gampang percaya orang... beberapa kali pernah ditipu.

    ._.

    BalasHapus