Membaca Lebih Banyak

"Iqra, Milea. Bacalah." — Dilan

Gigip Andreas — Membaca Lebih Banyak
Elijah O'Donnell via Unsplash
Saya tergabung dalam sebuah grup WhatsApp berisi kumpulan orang-orang hobi menulis, yang hampir setiap hari selalu ada saja yang menulis. Bahkan beberapa dari mereka memang menulis setiap hari.

Hebat? Biasa saja. Semua orang juga bisa menulis setiap hari jika mereka mau dan/atau mampu. Mau dalam arti meluangkan waktu dan mampu artinya memiliki waktu luang. Namun, kamu tahu, banyak dari kita lebih suka membuang-buang waktu, seperti misalnya, marah-marah di internet.

Apakah saya menulis setiap hari? Dua tahun lalu, iya—tuntutan pekerjaan juga. Sejak akhir 2018, saya lebih suka banyak baca daripada banyak menulis. Dengan kata lain, saya juga mulai sering bolos mengirim tulisan ke majalah daring yang memberi saya kesempatan "menulis dibayar" (untungnya tidak ada tuntutan menulis setiap hari). Saya merasa masih butuh ilmu dan waktu untuk meneliti, membedah, agar kelak bisa membuat, tulisan-tulisan bagus ke depannya.

Saya merasa tertinggal. Banyak orang di luar sana yang tulisannya sangat bagus. Dalam versi saya, sebuah tulisan masuk kategori bagus ketika bisa membuat saya tersenyum gemas sambil mengumpat, "Bajinguk! Orang ini, kok, bisa kepikiran nulis kayak gini, sih?!" dan, tulisan itu di genre humor.

Melvin Helitzer, pengarang buku Comedy Writing Secrets, menurutnya, "Banyak orang salah kaprah tentang humor. Mereka menganggap humor harus lucu, menghibur, dan menyenangkan. Padahal tidak selalu, humor adalah suatu kecaman atau kritik yang terselubung sebagai hiburan dan diarahkan kepada target yang spesifik."

Sebagai gambaran, contoh tulisan-tulisan humor yang saya maksud itu bisa kamu baca di web semacam Asumsi, Mojok, atau Voxpop. Topik yang belakangan ini—sejak tahun lalu, sih—saya minati adalah politik, sosial, dan budaya pop. Dua atau tiga tahun sebelumnya saya masih tertarik mempelajari agama Kristen. Sedangkan empat atau lima tahun sebelumnya minat saya ada di bahasan seputar blog dan bahasa pemograman.

Mungkin kamu bertanya, "Kalau sudah ada tempat yang mau membayar tulisanmu, kenapa masih harus belajar menulis lagi?"

Jawabannya: karena saya tidak mau hanya menulis di sana. Saya ingin menulis di banyak tempat. Berhubung beda tempat bisa beda gaya, saya harus menguasai banyak gaya. Terlebih, saya tidak mau berakhir sebagai orang yang hanya mampu menulis artikel. Saya ingin menulis cerita, puisi, esai, dan sebagainya. Suka atau tidak, saya harus mengasah diri dengan belajar karena bahasa tulis harus dipelajari, tidak bisa didapat secara alami—yang secara alami itu bahasa lisan.

Sulit? Pasti. Saya bukan orang yang memiliki latar belakang linguistik. Saya hanya orang yang kebetulan terjebak di dunia tulis-menulis dan akhirnya jatuh cinta. Ditambah lagi saya tidak belajar menulis secara formal. Proses belajar saya, ya, bersumber Google dan membedah tulisan orang. Adapun buku panduan menulis yang pernah saya pelajari hanya satu, yaitu Rahasia Menulis Kreatif karya Raditya Dika. Itu pun panduan untuk menulis fiksi.

Menurut saya pribadi, bagian tersulit dari proses menulis adalah menyusun kalimat. Maksudnya, banyak orang yang secara kaidah sudah oke, tetapi penyusunan kalimat masih jelek. Contoh yang paling mudah ditemukan—karena paling banyak dilakukan—adalah: (1) pemborosan kata pada subjek/objek, dan (2) pengulangan kosakata yang bukan bagian dari penekanan. Artinya, bisa dipangkas tanpa mengubah makna.

"Hari ini aku bangun kesiangan. Karena bangun kesiangan, aku berangkat dengan sangat buru-buru karena aku takut terlambat. Jika aku terlambat, maka guruku akan marah. Aku tidak mau dimarahi oleh guruku."

Tahukah kamu bahwa contoh di atas—selain boros kata—berisi kekeliruan bentuk kalimat majemuk bertingkat? Kalau belum tahu, ada kemungkinan kamu termasuk orang yang masih suka keliru dalam menyusun kalimat majemuk bertingkat.

Mempelajari bahasa tulis memang sulit. Saya amini itu. Apalagi menyusun kalimat, kita harus menguasai empat elemen keterampilan berbahasa: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Hanya gemar membaca tidak menjamin seseorang mahir menulis. Begitu pun jika hanya gemar menulis tanpa cakap membaca.

Jurnalis adalah contoh orang yang banyak menulis, tetapi kemampuannya tidak bertambah seiring jam terbang yang mereka ciptakan. Jari-jari mereka mungkin terlatih untuk menulis lebih cepat dari orang biasa, tetapi, ya, kualitas tulisannya mentok. Mayoritas bloger juga begitu.

Nah, karena saya masuk kategori bloger dan terancam mengalami nasib yang sama, saya akan belajar dan berlatih agar kualitas tulisan tidak mentok. Kalau kamu?

22 Komentar

  1. Semengnya bisa membaca artikel bermanfaat seperti ini. Terimakasih bang gigif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, ya.
      Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  2. Yang udah jago ajah masih merendah dan terus belajar��

    Apalah saya yang hanya penikmat saja,

    BalasHapus
  3. Kapan bisa bikin tulisan kayak gini ya😢😢

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mulailah, jangan menunggu. Pasti bisa.

      Hapus
    2. Isshh mbak Tara kog mewek ha ha ha nikmati tulisan mas Gigip jah

      Hapus
  4. Dude, biasanya semakin mengikuti kaidah penulisan yang benar, semakin sulit tulisan itu dipahami. Or should I say pembaca belum siap untuk membaca sesuai kaidah yang diatur PUEBI itu. Makanya gue selalu nulis santai aja. Sometimes, we need to cut loose.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pikir disitulah letak keindahannya, tanpa sengaja kita ngajak orang belajar peubi, kalau yang baca penasaran. Tapi biasanya gituh, apalagi kalau beda sama yang biasanya ia pake,pasti bakal penasaran...

      #koment_gaje🙈

      Hapus
    2. Mas Firmansyah yang saya hormati.

      Anda keliru. PUEBI itu aturan penulisan: (1) pemakaian kata, (2) penulisan huruf, dan (3) pemakaian tanda baca.

      Kalau mengikuti aturan penulisan di atas membuat pembaca jadi bingung, saya rasa sebaliknya.

      PUEBI itu yang mengatur huruf kapital, penulisan imbuhan, kata ganti, dan sebagainya. Kalau kita menulis imbuhan salah, misalnya, bukankah malah jadi ambigu? "Dipenjara" dan "di penjara" itu beda, kan, Mas Firman?

      Satu hal lagi. Sebenarnya, di tulisan ini saya enggak bahas kaidah. Saya lebih menyorot penyusunan kalimat (dan ini enggak ada di KBBI ataupun PUEBI). Cara paling mudah untuk bisa menyusun kalimat dengan baik adalah: banyak membaca dan banyak menulis. Tentu, didukung oleh keterampilan berbahasa.

      Omong-omong, semua penerbit buku (umumnya) menerapkan PUEBI. Bahkan buku-buku Raditya Dika pun penulisannya mengikuti PUEBI. Kalau enggak mau mengikuti PUEBI, para novelis enggak akan bisa menembus penerbit. Kecuali menerbitkan lewat penerbit indie dan memilih tanpa editor, kali, ya.

      Hapus
    3. Walah.. I see. Thanks for correcting, Sir!

      Hapus
    4. With my pleasure, Fella.

      Hapus
  5. Terima kasih, sudah mau berbagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama.
      Terima kasih juga sudah mampir.

      Hapus
  6. Gigip, aku merekomendasikan baca Intisari. Bisa daring atau cetak. Yang mana aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Barusan buka Google. Intisari itu majalah, ya, May? Baiklah, saya coba baca-baca. Terima kasih sarannya, May!

      Hapus
  7. Wih, keren abis nih. Berat berat euy bacaannya. Muehehe.
    Anyway, kenapa tiba2 ganti tampilan dan tulisan yang dulu2 ilang nih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ganti tampilan pakai "grid style" supaya lebih sederhana. Tulisan lama dijadikan privasi karena ada gerakan revolusi. Hahahaha

      Hapus
  8. Baca tulisan mas Gigip ini saya cuma ngiler

    Hehehe mungsret nyali

    BalasHapus
  9. membaca lebih banyak dilakukan di mana mas? apakah baca novel, berita, atau jalan2 di blog orang seperti ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya agak jarang baca novel. Lebih banyak baca artikel di internet, Mas.

      Hapus