Melatih Kecakapan Membaca dan Menulis

Kalau membaca sekadar mengeja kata dan menulis sekadar menyusun kalimat, anak SD usia tujuh tahun juga melakukannya.

Gigip Andreas — Kecakapan Membaca dan Menulis

Bagi saya, tahun 2018 adalah tahun belajar. Tahun melatih kecakapan membaca dan menulis. Saya senang selalu dikelilingi oleh orang-orang berilmu yang baik hati, dan saya bersyukur efeknya membawa ke arah yang lebih baik.

Bulan Oktober lalu saya membuat akun di Plukme, bertemu dengan banyak orang, dan ada dua hal penting yang saya dapat dari mereka.

1. Kecakapan Membaca

Cakap membaca, berbeda dengan sekadar mengeja kata. Lebih dari itu, kecakapan membaca artinya mampu menerjemahkan kalimat, memahami konteks, dan membuat interpretasi yang logis. Saya tahu, setiap tulisan memberi kebebasan interpretasi pada pembacanya. Namun, bebas bukan berarti sembarang.

Saya pernah menulis ini di grup obrolan: "Setelah mempelajari Islam, saya jadi semakin yakin bahwa Kristen adalah agama yang benar." Lalu, seorang teman bertanya, "Jadi, menurutmu, Islam itu salah?"

Lho? Di bagian mana saya bilang Islam salah? Saya bilang saya yakin Kristen adalah agama yang benar, bukan satu-satunya agama yang benar. Kenapa Islam harus jadi salah? Kenapa ketika satu hal dinilai A, maka hal yang lain otomatis menjadi B? Jika saya bilang Android adalah ponsel yang bagus, tidak berarti iPhone jelek, kan?

Salah paham dalam bahasa tulis sering terjadi karena tidak cakap membaca, ditambah kegemaran membuat kesimpulan secara cepat. Selalu utamakan ketepatan ketimbang kecepatan. Bahkan dalam balapan, para pembalap juga dituntut mengutamakan keselamatan daripada kemenangan.

"Kesalahan terbesar dalam komunikasi adalah kita mendengar untuk menjawab, bukan untuk memahami," kata Stephen Covey.

Kesalahan lain: membaca sepotong-sepotong. Membaca tulisan pendek seperti utas di Twitter, misalnya, memang lebih mudah dan cepat ketimbang membaca satu tulisan utuh di blog. Namun, hasilnya berbeda. Tulisan pendek sering kali kabur karena tidak detail. Itulah kenapa banyak orang kerap ribut di sebuah utas Twitter karena hanya membaca penggalan-penggalan pemikiran, tanpa memahami konteks tulisan.

Beberapa waktu lalu, Selviana membuat twit ingin mencari calon suami yang memiliki gaji minimal 30 juta rupiah. Banyak orang yang mendukung, tetapi lebih banyak lagi yang mencela. Mereka memaki dan menilai Selviana buta harta. Yang mereka tidak tahu, 30 juta rupiah yang dibuat Selviana adalah hasil hitungan dengan rincian, dan, termasuk untuk cicilan rumah. Yang tidak mereka lakukan, mencari tahu untuk apa uang 30 juta per bulan itu. Padahal, Selviana sudah menjelaskannya di Twitter. Malas baca?

Keteledoran lain: enggan memperluas bahan bacaan. Kita sering kali merasa cukup dengan satu genre tulisan, atau blog-blog favorit, atau buku-buku karya penulis idola, dan menutup diri dari tulisan lain yang kita anggap tidak menarik—padahal belum tentu. Memperluas bahan bacaan, selain memperkaya kosakata dan menambah pengetahuan, akan melatih kecakapan membaca. Setiap penulis memiliki gaya penulisan yang berbeda, mengonsumsi banyak gaya akan mengasah pola pikir untuk memahami rangkaian kata.

Menulis di Plukme membuat saya ditemukan oleh banyak orang. Beberapa dari mereka menawarkan bergabung ke grup kepenulisan. Di sana, karena ada banyak orang yang menulis hampir setiap hari, saya selalu punya bahan bacaan yang berbeda hampir setiap hari. Membaca tulisan mereka melatih kecakapan membaca saya. Tentu, selain tulisan mereka, saya juga membaca tulisan lain di luar lingkaran pertemanan.

2. Kecakapan Menulis

Banyak orang, terutama di negara yang kita sebut indah ini, sering kali mengikuti sebuah arus tanpa paham apa yang sedang (dan harus) mereka lakukan. Contoh mudahnya, ketika ada sebuah tren di media sosial, kita bisa dengan mudah melihat sesuatu yang entah apa namanya dilakukan oleh entah siapa lewat sebuah tagar.

Sejak beberapa tahun ke belakang, literasi mulai jadi sebuah tren. Banyak orang yang berpedoman pada KBBI dan PUEBI. Bagus, memang, tetapi menjadi tidak bagus ketika digunakan untuk pamer lebih berbudaya dari orang yang tidak menulis rapi. Maksudnya, mereka mengira menulis rapi adalah sebuah gaya, entah untuk terlihat pandai berbahasa atau bagaimana. Padahal, kalau hanya ingin bergaya, kenapa tidak sekalian menulis pakai bahasa Inggris? Jerman? Spanyol? Atau barangkali, Ukraina?

Menulis rapi hanyalah upaya meminimalisasi kekeliruan dalam menyampaikan gagasan lewat tulisan. Jelas, karena bahasa lisan berbeda dengan bahasa tulis, dalam bahasa tulis dibutuhkan aturan agar tulisan dapat tersampaikan dengan baik dan mengurangi kesalahpahaman.

Namun, perlu kamu tahu, bisa menulis rapi tidak menjamin tulisanmu bagus. "Sebuah tulisan dinilai baik jika tulisan itu baik dari semua aspek, bukan salah satu aspek saja," kata Windy Ariestanty. Artinya, penulisan yang rapi hanya salah satu faktor. Saya pribadi lebih suka membaca tulisan berantakan yang memiliki kejelasan tema, ketimbang tulisan rapi yang bertele-tele atau tidak menjelaskan apa-apa.

Banyak orang mengira khatam KBBI setara dengan cakap menulis. Padahal, kecakapan menulis berarti mampu memilih kosakata tepat makna, menyusun kalimat efektif dan efisien, membuat hal-hal rumit menjadi sederhana agar mudah dicerna oleh pembaca, serta paham cara menempatkan tanda baca.

Kekeliruan lain: menuhankan kata baku. Percayalah, kata baku tidak lebih mulia dari ejaan sehari-hari. Kata baku diciptakan bukan untuk merendahkan kata tidak baku, melainkan sekadar standar agar bahasa kita memiliki keselarasan penulisan, terutama dalam ragam beku dan ragam formal.

Orang yang gemar memakai kata baku, saya yakin, setidaknya pernah mendapat kritikan senada, "Tulisan kamu kaku banget." Lalu, biasanya, membela diri dengan dalih lebih baik kaku yang penting baku. Lucu. Sebuah tulisan menjadi kaku bukan karena memakai kata baku, melainkan karena penyusunan kalimat. Memakai kata baku tidak harus menjadi kaku. Jika tulisanmu masih dianggap kaku, hal yang harus kamu lakukan adalah belajar menyusun kalimat, bukan membela kata baku.

Masalah lain: merasa cukup dengan hanya membuka KBBI dan PUEBI. Jika kamu punya grup kepenulisan, pasti akan ada orang yang setiap kali mengoreksi hanya mentok di kata baku. Hobinya memperdebatkan antara jomblo dengan jomlo, sekadar dengan sekedar, atau nafas dengan napas. Orang seperti itu tidak akan banyak membantumu.

Kecakapan menulis, lebih dari sekadar memakai kata baku. Kamu harus bisa memilih ketepatan makna sebuah kata, tahu cara menyusun kalimat majemuk bertingkat, memperhatikan tingkat keefektifan sebuah kalimat, dan masih banyak lagi.

*** 

Saya mempelajari kedua hal di atas sejak menulis di Plukme, sekitar tiga bulan yang lalu. Dengan kata lain, saya masih seorang amatir yang kecakapan membaca dan menulisnya belum bagus, masih harus dilatih.

Berat? Tentu saja. Pada beberapa malam, saya pernah begadang hanya untuk memahami isi PUEBI, membaca artikel-artikel di Google, dan siang harinya sibuk melempar pertanyaan di grup karena saya sering bingung. Sekali lagi, saya beruntung dan bersyukur selalu dikelilingi oleh orang-orang berilmu yang baik hati. Tabik.

20 Comments

  1. Ayeaaaay, Keren bang...

    Kalau dirimu masih belajar, lalu saya apa? Belajar untuk "belajar"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajar untuk... Dan aku baru belajar bagaimana cara belajarπŸ™ˆ

      Delete
    2. @Gemilang Wawan Kurniawan: dirimu adalah pembelajar yang baik, dan salah satu tolok ukur saya. Hahaha.

      @Raein: menjadi mahasiswi Matematika memang selalu sulit dalam berlogika, ya?

      Delete
  2. Ugh... Aku mengerti sekarang dengan apa yang (seseorang pernah) disebut menjadi berbeda. Makasih. Berenti keren dong sekali-kali. :D.
    Hehehe. Peace

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa? Takut tersaingi? Hahaha. Tenang, pasarmu tetap pasarmu, dan tulisanmu memang keren. Saya akui itu.

      Delete
  3. merasa tertampar banget.
    terimakasih kak sudah sharing

    ReplyDelete
  4. I always like your write young man. I proud of you. Bukan buat gaya loh ya? Takut salah aja..ntar gk bakub lagii.. Miss you always.

    ReplyDelete
  5. Wow...!
    Kamu selalu keren deh...

    Aku selalu belajar dari kamu... padahal aq lebih tua tapi masih aja gak tau apa2...
    Semangat buat anak2 muda sepertimu... semoga terus menginspirasi generasi muda yang lain...

    Aku jadi kangen plukme...
    Di mana setiap hari selalu ada writing project dri teman2 dan clue untuk latihan menulis... πŸ˜”πŸ˜” semoga Plukme cepet kembali...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga rindu Plukme dan orang-orang di sana yang hilang kontak. Padahal tulisan mereka bagus-bagus. Sayangnya enggan beralih ke platform lain.

      Delete
  6. Aku nggak punya Plukme. Tapi membaca tulisan-tulisanmu aku jadi tertarik bikin, Gip.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Kabar buruknya, Plukme masih belum bisa diakses sejak bulan lalu. Selain di Plukme, di Beritagar dan Kompasiana juga banyak tulisan-tulisan bagus, May. Cuma, ya, begitu. Tulisan bagus agak susah dicari karena tertimbun tulisan-tulisan kurang bagus.

      Delete
    2. Oh gitu to, Mas. Sampe sekarang belum bisa di akses ya?
      Aku belum coba akses lagi juga sih.

      Bener juga sih, agak susah cari tulisan bagus karena tertimbun tulisan-tulisan yang terkadang biasa tapi selalu terlihat ya :(

      Delete
    3. Masih belum bisa. Sempat dengar kabar, katanya, akhir Januari bisa diakses. Kita lihat nanti. Semoga saja.

      Soal tulisan, ya, begitulah. Hahaha πŸ˜…

      Delete
  7. Mantap, Mas Gip.
    Begitupun aku kecakapan membaca dan menulisnya belum bagus, dan sama harus dilatih. Dan terus dilatih.

    Gak asing sama plukme ini, ternyata mas Gigip nulis disana ya.
    Semuanya memang butuh pengorbanan ya, apalagi soal belajar. Berat di awal wajar memang, tapi yang keren itu bisa istiqomah.

    Sukses selalu, Mas.
    #MakhlukPembelajar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum lama. Saya gabung Plukme bulan Oktober 2018. Baru satu bulan sudah gangguan. Menyedihkan. Haha.

      Terima kasih, Mas Andi. Sukses selalu, ya!

      Delete
  8. "Kesalahan terbesar dalam komunikasi adalah kita mendengar untuk menjawab, bukan untuk memahami," kata Stephen Covey.

    Me, most of the time when I hear my cousins talk to me. Haha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mereka masih anak-anak? Terkadang mereka memang terlalu banyak bicara, Ran. Hahaha.

      Delete
  9. opini yang membahana ya.. poin yang saya jadikan atensi adalah soal kepenulisan. Menulis baku bukan berarti kaku, hanya permasalahn penyusunan kalimat saja.

    Saya baru kepikiran soal ini. Nyatanya secara ga sadar kita sering menemukan tulisan baku, tapi ya tetap santai dan enak dibaca... jauhlah dari istilah "kaku"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah. Banyak tulisan yang ditulis memakai kata baku tanpa menjadi kaku. Banyak juga tulisan yang memakai ejaan sehari-hari, tetapi penyusunan kalimatnya masih berantakan atau bertele-tele. Sangat disayangkan memang.

      Delete