Kilas Balik dan Resolusi

Belajar melampaui diri sendiri.

Gigip Andreas — Resolusi

Membaca dan menulis (di blog) telah banyak mengubah hidup saya. Lima tahun lalu, saya hanya seorang anak SMK Analisis Kimia yang merasa salah pilih kejuruan. Nilai saya cukup bagus—ya, bagus menurut saya pribadi—tetapi minat saya bukan di sana. Maksudnya, kita adalah mahluk yang bisa berpikir dan beradaptasi dengan baik, bahkan dalam lingkungan yang kita tidak sukai. Hal-hal yang kita pelajari dengan tekun meskipun merasa terbebani, lambat laun akan tetap terkuasai.

Dua kalimat pertama di alinea sebelumnya, kalau menurutmu lucu dan terasa berlebihan, sejujurnya saya juga berpikir demikian. Saya tidak pernah menyangka bahwa rutin menulis di blog akan membawa saya ke posisi yang sekarang. Lagi pula, masa depan memang selalu penuh kejutan, kan?

Seorang guru di Jerman, umpamanya, boleh jadi terkejut karena muridnya yang dianggap paling dungu kelak menjadi pemimpin NAZI dan hampir berhasil menguasai dunia. Satu hal menarik, si murid dungu itu menyatukan pikiran banyak orang hanya lewat kata-kata. Kemampuan berbicara (satu dari empat keterampilan berbahasa) adalah koin dua sisi: dari manusia seperti Hitler bisa menghasilkan peperangan, dari manusia seperti Gandhi bisa membawa perdamaian.

Menulis termasuk keterampilan berbahasa. Ketika menulis, kamu tahu, kita akan berpikir, berlogika, mengingat, menjelaskan, membuat kesimpulan, berimajinasi, dan sebagainya. Barangkali inilah kenapa para pemikir hebat selalu menulis dan para pembaca yang rakus akan menjadi pemikir hebat.

Lalu, apakah narablog atau bloger—orang yang menulis di blog—termasuk pemikir hebat? Jawabannya tergantung dari apa yang mereka tulis. Dalam kasus saya, kalaupun belum menjadi pemikir hebat, setidaknya saya mendapat beberapa hal hebat.

Bulan Juni tahun 2013 adalah kali pertama saya membuat blog. Setelah empat bulan rutin menulis, entah bagaimana ceritanya, Andri Priatna tersasar ke blog saya dan mengirimi saya pesan di Twitter. "Halo, Kang. Saya abis baca-baca blognya. Mau gabung tim YeahBandung?" sebuah pesan yang menjadi pintu petualangan.

YeahBandung adalah media informasi kota Bandung. Konsepnya serupa InfoBDG atau InfoBandung atau apa pun itu yang sejenis, tetapi versi kecil dan miskin sumber daya. Di sini saya mendapat banyak pengalaman yang beragam. Saya juga menjajal beberapa posisi: admin Twitter, pengelola iklan, pembuat video, dan pewarta.

Salah satu bagian yang menyenangkan dari menjadi anak media adalah sering makan gratis. Saking seringnya, saya lupa sudah berapa kali bertamu ke tempat makan yang mengajak kerja sama.

Gigip Andreas

Selain makan gratis, anak media juga sering masuk ke acara-acara besar secara gratis—untuk membuat liputan dan laporan. Acara paling hebat (bagi saya) adalah From 2 With Love 2015, sebuah acara bazar dari SMAN 2 Bandung.

Itu pengalaman yang menarik karena saya bisa bebas jalan-jalan selama acara, dan boleh berpindah-pindah tempat duduk termasuk mencoba kursi VVIP yang harganya tidak manusiawi. Maklum, bintang utama acaranya adalah Secondhand Serenade. Ya, SMAN 2 Bandung memang keren.

Gigip Andreas — From 2 With Love 2015

Bulan Oktober tahun 2015, setelah saya lulus dari SMK, ibu saya memberi dua pilihan, yaitu (1) terbang ke Kalimantan untuk bekerja di Geoservices, atau (2) pindah ke Yogyakarta untuk kuliah di Universitas Gadjah Mada. Saya menolak keduanya. Saya memilih pergi ke Jakarta Barat untuk bekerja di majalah daring.

Itu tawaran dari seorang teman yang bekerja di sana dan mengetahui saya suka menulis di blog. Majalah tempatnya bekerja sedang butuh orang untuk menulis artikel, alhasil posisi itu ditawarkan pada saya. Saat itu saya baru tahu rasanya menulis dibayar. Saat itu, saya baru sadar ternyata saya bisa hidup dari menulis.

Gigip Andreas

Akhir tahun 2016, saya pindah kerjaan ke sebuah kafe dengan posisi copywriter (orang yang membuat tulisan untuk iklan atau konten yang dapat menarik konsumen). Bulan Oktober tahun 2018, saya mendapat tawaran lagi untuk menjadi kontributor di majalah daring yang lain—dan tentu saja dibayar. Satu hal yang ingin saya tekankan: jika saya tidak menjadi bloger, semua ini tidak akan saya dapatkan.

Di luar hal-hal yang sudah saya sebutkan, pengalaman paling berharganya adalah ditemukan oleh banyak orang hebat. Bagi saya, para pembaca termasuk orang yang hebat karena membaca adalah pekerjaan berat. Maksudnya, membaca dalam arti menerjemahkan kalimat dan memahami konteks, bukan sekadar mengeja huruf.

"Membaca membuatmu mengenal dunia, menulis membuat dunia mengenalmu." Saya lupa itu kutipan siapa, yang jelas saya setuju. Sebelum menjadi bloger, saya hanya melihat dunia dari pelbagai buku dan artikel yang saya baca. Setelah menulis di blog, saya mulai menjadi bagian dari dunia dan akan dilihat oleh pembaca.

Pertanyaannya: sudah puaskah saya dengan semua pencapaian itu? Tentu saja, belum. Tahun ini saya membuat beberapa resolusi karena masih ingin bertumbuh.


Resolusi pertama, saya ingin belajar menulis lebih rapi. Alasan sederhana: saya sering ambigu dan jengkel ketika membaca tulisan orang lain yang penulisannya berantakan—kekeliruan yang seyogianya tidak perlu terjadi karena sudah ada KBBI dan PUEBI. Jika bahasa kita sudah memiliki kamus dan aturan, kenapa masih menulis serampangan?

Bagi orang yang sudah melek KBBI, "jengah" dan "jenuh" itu dua kata beda makna. Pun bagi yang sudah akrab dengan PUEBI, "Bahasa Indonesia" dan "bahasa Indonesia" itu tidak sama.

Dalam bahasa tulis, kekeliruan sering terjadi bukan karena kata baku dan kata tidak baku, melainkan perkara (1) pemilihan kosakata tidak tepat makna, (2) pemakaian tanda baca, (3) penggunaan huruf kapital dan huruf miring, dan (4) penulisan imbuhan dan kata depan.

Nah, keempat hal itu yang ingin saya perbaiki dalam belajar menulis lebih rapi. Saya ingin mengurangi kekeliruan agar orang yang membaca tulisan saya tidak jengkel.

Resolusi kedua, saya ingin belajar menulis puisi. Momen ini muncul setelah membaca buku Melihat Api Bekerja karya Aan Mansyur. Entahlah, saya hanya suka cara Aan memilih diksi dan merangkai kata menjadi sebuah puisi. Berhubung Tumblr sudah bisa diakses kembali, saya akan menjadikan Tumblr sebagai tempat latihan dan belajar menulis puisi.

https://gipsterya.tumblr.com/post/181730992460/jengah

Resolusi ketiga, saya ingin menulis di banyak tempat dengan berbagai jenis tulisan (puisi adalah salah satunya). Sebagai permulaan, saya memilih Kompasiana untuk menulis esai yang serius—memangnya ada esai bercanda? Maksudnya, jenis tulisan berisi opini yang membahas hal-hal bertema serius. Bisa jadi politik, sosial, agama, atau apa pun.


Kenapa harus di tempat yang berbeda? Agar lebih terkonsep karena blog ini akan tetap berisi hal-hal remeh dan ringan (seperti tulisan yang sedang kamu baca sekarang). Alasan lainnya, hitung-hitung memperluas jangkauan pembaca karena setiap platform memiliki pasar yang berbeda.

Itu adalah tiga dari sepuluh resolusi saya untuk tahun ini. Nomor empat, lima, sampai sepuluh, belum saya pikirkan. Jika kamu ada kisah atau resolusi yang ingin dibagi, jangan sungkan untuk membaginya di kolom komentar. Siapa tahu bisa menginspirasi saya untuk melengkapi daftar resolusi. Hehe.

28 Comments

  1. Selalu menginspirasi. Mantap!

    ReplyDelete
  2. manteb banget, mas gigip. george!(joss)

    ReplyDelete
  3. Waah .. ngga nyangka..., ternyata seorang Gigip Andreas ini pernah jadi copywritter.

    Keren, Gip.
    Menginspirasi buatku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untungnya ada tim, enggak kerja sendirian. Kalau sendiri pasti minum Bodrex setiap hari.

      Terima kasih, Mas Himawan.

      Delete
  4. Asik asiiikk
    semoga kita bisa berkontribusi tingkatkan literasi dgn jadi bloger ya
    Kindly visit my blog: bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Meskipun tujuan utama saya bukan ke arah sana, sebenarnya. Hehe.

      Terima kasih, Mbak Nurul.

      Delete
  5. Selalu suka cara penyampaiannya.
    Sip

    ReplyDelete
  6. Wowwwww... ajari aku anak hebat...next great writer

    ReplyDelete
  7. Gigip, aturan dalam kebahasaan nggak selalu dipahami setiap orang. Apalagi yang memang awam. Banyak yang memulai blog dengan curhatan. Cuma mau melepas penat dan nulis apa yang ada di pikiran. Tentu nggak sempat belajar kebahasaan duluan kan. Nanti keburu lupa mau nulis curhatan apa. Wkwk.

    Terus, ada juga yang memang paham aturan kebahasaan dan memilih untuk menulis di blog secara kolokuikal. Bebas tanpa aturan. Itu pilihan kok. Dan kalau kamu nggak nyaman, belum tentu pembaca lain demikian. Bisa jadi dengan kebebasan menulis itu seorang pemilik blog malah memiliki pembaca yang nyaman. Karena nggak setiap orang mengerti aturan kebahasaan. Ada pembaca yang memang lebih suka menikmati tulisan apa adanya tanpa memusingkan semua itu.

    Tapi lagi, kalau udah lama berkecimpung di dunia tulis menulis, ada baiknya memang belajar kaidah kebahasaan.

    Kita boleh nggak nyaman dengan kepenulisan orang lain--yang kurang sesuai dengan kaidah kebahasaan sesuai pengetahuan kita--namun kita juga harus paham kalau nggak setiap orang mau dan mampu mempelajari itu.

    Sebagai guru fisika, aku nggak pernah memaksa muridku untuk paham semua rumus dan konsep. Karena aku sadar kalau mereka tidak akan menemukan kenyamanan jika belajar hal yang tidak mereka sukai.

    Mungkin ini yang berlaku di dunia kepenulisan blog. Mereka suka menulis. Tapi tidak (atau belum) suka dan mau (atau mampu) mempelajari kaidah kebahasaan.

    Feel free to drop your thought :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita satu pendapat, kok. Yang kamu tulis itu sama kayak yang saya tulis di Kompasiana, dua minggu lalu. I was drop my thoughts. :p

      Delete
  8. Cuma bisa bilang keren😍 sy tertinggal jauh ... huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga tertinggal kalau membandingkan diri dengan para penulis lain di luar sana, Mbak.

      Terima kasih, Mbak Cahaya!

      Delete
  9. Wah, ini tiap ada orang yang blog gue perasaannya emosi kali ya. Di sana kagak ngikutin aturan soalnya. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena di Indonesia lebih banyak orang yang enggak tahu kaidah, kayaknya yang emosinya sedikit, deh, Di. Lagi pula audiens Keriba-Keribo itu remaja yang bukan penulis, kan, ya? Besar kemungkinan mereka tetap nyaman, kok, seharusnya.

      Delete
  10. aku dulu...
    pas kuliah, pengen masuk jurusan ilmu komunikasi. soalnya aku pengen kerja sebagai content creative di sebuah majalah (online maupun offline)
    tapi... ditolak mentah-mentah oleh Ayah dan Ibu
    mereka gak akan membayari kuliahku
    dan aku gak akan nekat dong
    aku pun juga harus berbakti
    ya aku nurut dengan jurusan apa yang ada deh, pokoknya bukan ilkom

    tapi Alhamdulillah, meski aku gak masuk jurusan impian, tapi cita-citaku tercapai. menjadi content creator, meski bukan di majalah, melainkan di blog sendiri.

    Resolusinya yaaa... meningkatkan skill untuk menjadi content creator. Padahal ya masih ngeblog aja sih mainannya. Tapi Inshaa Allah akan merambah ke media lainnya

    hohooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, kisahnya lumayan menantang dan "gambling", ya. Hahaha

      Itu luar biasa, kok, Kak Ros. Saya doakan yang terbaik dan sukses selalu!

      Terima kasih sudah berbagi. Tabik.

      Delete
  11. Nah nulis panjang kali lebar yang enjoy dibaca gitu yang berasa kriting kepala, Pertama baca tulisan Gigip di Plukme. Wes anak muda keren ini.

    Yang tuwir-tuwir berasa pingin balik ke alam remaja ha ha dan bikin blog.(jaman primitip) he he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow. Terima kasih masih mengingat saya, Kak Azura. Mari membuat blog dan menulis bersama. Tabik.

      Delete
  12. Keren, Gip! Ternyata menulis udah membawa lu ke banyak tempat. Bahkan gue kaget lu pernah jadi copywriter. Bagi tipsnya, dong! :D

    Soal nulis dibanyak tempat... sebenarnya gue udah terpikirkan hal itu dari tahun 2015 kemarin. Tapi berhubung tulisan gue waktu itu masih jelek dan serampangan, gue batalin, tuh. Tapi habis baca tulisan lu yang ini, gue jadi tertarik buat menulis di luar blog.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dibilang beruntung. Waktu kerja di kafe itu dari relasi, Bro. Kafe itu salah satu rekan YeahBandung. Mungkin karena puas dengan pelayanan YeahBandung, akhirnya dia narik saya untuk kerja di kafenya. Hahaha.

      Wah, kalau nanti nulis di luar blog, berkabar, ya!

      Delete
  13. Gip, I don't know what to say... your post is like... another level to me.. haha.
    Semoga tercapai semua resolusinya. Amin.. ☺️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terima kasih. Kamu juga, sukses selalu, ya!

      Delete
  14. Mantab kak smg tetap semangat ngeblog dan menginspirasi yah :)

    ReplyDelete