Kenapa dan Bagaimana Saya Menulis

Menjawab beberapa pertanyaan.

Gigip Andreas — Kenapa Saya Menulis
Rawpiksel via Pexels
Saya mulai rutin menulis sejak tahun 2013 di blog pribadi. Tulisannya, ya, sudah jelas berantakan. Jangankan berpedoman pada EYD—sekarang namanya PUEBI—dan KBBI, menulis "di" untuk kata kerja dan keterangan tempat/waktu saja tidak paham.

Tulisan saya saat itu benar-benar ngawur. Mulai dari ejaan, imbuhan, sampai tanda baca, semuanya saya tabrak semau jiwa. Kalau itu belum cukup menyebalkan, perlu saya tambahkan: saat itu saya merasa sudah bisa menulis dengan bagus dan meminta teman-teman saya membacanya, secara paksa, tentu saja. Hahaha.

1. Saya Langganan Remedial Bahasa

Selama di bangku sekolah, saya termasuk siswa yang rutin remedial di pelajaran Bahasa Indonesia. Penyebabnya, ya, karena memang tidak tertarik pada pelajaran ini—maaf, saya sudah mencoba mencari alasan keren untuk mengelak, tetapi belum dapat. Faktor lainnya, saya lebih menyukai bahasa Inggris.

Tunggu, saya tidak bilang tidak suka bahasa Indonesia. Saya bilang lebih menyukai bahasa Inggris. Tidak ada alasan spesifik untuk ini. Mungkin, dorongannya adalah pengaruh masa kecil yang lebih banyak memainkan permainan di komputer dan PlayStation, yang mana hampir semuanya berbahasa Inggris. Setahu saya, tahun itu, Harvest Moon: Back to Nature adalah satu-satunya permainan yang menyediakan bahasa Indonesia.

2. Saya Tidak Suka Membaca

Di masa kecil, saya punya koleksi majalah Bobo, buku cerita bergambar hadiah susu Dancow, beberapa komik, dan satu buku tebal berjudul Kisah 25 Nabi yang disisip beberapa ilustrasi. Selain itu, saya juga gemar membeli camilan berhadiah komik lipat ukuran mini. Apa yang menjadi fokus saya dalam semua cerita-cerita itu adalah gambar.

Saya pernah ingin menjadi pelukis, bukan penulis. Saking sukanya menggambar, waktu SD, saya sampai meminta ayah menyubsidi kertas HVS sebanyak satu pak setiap bulan. Supaya adil, subsidi krayon dan pensil warna saya tugaskan pada ibu. Saya masih ingat, di kelas empat SD, saya pernah membuat komik sendiri—yang tentunya setiap komik hanya sanggup bernapas satu kertas bolak-balik.

3. Saya Menulis karena Jatuh Cinta

Banyak orang yang mulai suka menulis ketika patah hati. Sebaliknya, saya malah menulis karena jatuh cinta. Namanya Hanny Nurliany, adik kelas di SMP. Dia adalah orang yang membuat minat menggambar saya berhenti, diganti dengan minat menulis. Gadis yang saya pacari selama satu tahun itu menjadi gadis pertama yang saya beri buku berisi kumpulan tulisan (tangan) saya.

Inspirasinya dari ayah—sungguh, lelaki yang satu ini terlalu banyak memberi inspirasi. Suatu hari ketika disuruh beres-beres rumah karena kami mau pindah, saya secara tidak sengaja menemukan buku diari milik ayah ketika masih pacaran dengan ibu. Isinya banyak tulisan singkat, beberapa halaman diisi oleh gambar. Pikir saya waktu itu, buku diari berisi curahan hati adalah hadiah paling romantis yang proses pembuatannya sangat mudah dan murah.

Ketika membaca diari ayah, entah kenapa, saya merasa seakan-akan menjadi penulisnya. Saat itu saya mulai mengagumi cara kerja sebuah tulisan—mampu membuka kembali semua ingatan, bahkan sampai melibatkan perasaan. Saat itu, saya mulai ingin menulis.

4. Saya Sebenarnya Tidak Suka Menulis

Saya hanya orang biasa dengan berbagai pikiran yang ingin dibagi. Persoalannya, saya seorang introver. Di satu sisi saya ingin bicara dan disimak oleh banyak orang. Di sisi lain, saya tidak pandai mengontrol diri ketika menjadi pusat perhatian. Mau tidak mau, alternatif yang harus saya ambil adalah menulis.

Ya, saya menulis karena terpaksa. Kalau saya memilih ego dan malas untuk menulis, isi kepala ini tidak akan pernah tersampaikan. Masalahnya, untuk bisa menulis dengan baik, saya harus menjadi seorang pembaca yang rakus—inilah bagian tersulitnya dan kenapa saya tidak suka menulis.

5. Saya Ingin Berhenti Menulis

Seandainya ada alternatif lain yang lebih mudah untuk saya lakukan, mungkin saya sudah berhenti menulis sejak kemarin. Tentu, saya akan sangat mengagumi orang yang bisa mencintai kegiatan tulis-menulis tanpa pernah merasakan pelbagai tekanan—kalau orang semacam ini memang ada.

Sayangnya, menulis adalah kegiatan dengan risiko gangguan kejiwaan dan bunuh diri yang cukup tinggi, kata Dee Lestari. Mungkin, hal terbaik yang bisa saya lakukan sekarang hanyalah terus menulis, sampai saya lupa pernah ingin berhenti untuk menulis.

31 Komentar

  1. Oh oh oh. Aku tak mampu lagi berkata-kata 😀😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beberapa hal memang hanya perlu dinikmati, Brina.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Indonesia darurat micin.

      Hapus
    2. Kirain lo juga udah ganti micin jadi vetsin.

      Hapus
    3. Gue malah baru tahu kata "vetsin" dari definisi micin di KBBI.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Mau berhenti saat sudah menemukan alternatif lain yang lebih mudah.

      Hapus
  4. Ikuti kata hatimu saja. Kalau kamu senang lanjutkan, kalau lelah .... berhenti sejenak pun tak apa. Asal kamu tahu kapan harus kembali.

    BalasHapus
  5. aku menulis karena butuh orang atau sesuatu yang siap menyimak curhatanku, tanpa membantah apapun
    haha
    egois sih ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita sama dong. Ingin didengar tanpa perlu dibantah. Kecuali saat sudah selesai bercerita, bolehlah bertanya atau menyanggah. Mungkin juga, pada dasarnya, hampir semua penulis adalah mahluk yang egois. Mungkin.

      Hapus
  6. Halo, Gip. Apa kabar?

    Coba bikin podcast. Siapa tau bisa jadi alternatif menulis. Tapi blog juga jangan ditinggal sih. Tulisan kamu dari dulu udah bagus-bagus. Juga, kamu cepat belajar dari orang lain. Salut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Mayang!

      Kabar sehat. Kau juga, kan? Semoga dan selalu.

      Beberapa waktu lalu sempat mencoba merekam, tetapi, rasanya masih butuh banyak-banyak minum air jeruk nipis campur kecap.

      Wah, terima kasih. Tulisan-tulisanmu juga, saya suka!

      Hapus
  7. Lain orang, lain pula alasannya menulis. Dulu, gue tertarik untuk menulis karena waktu itu suka JKT49. Okesip. Ini memalukan sekali tapi begitulah faktanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adakah cerita itu ditulis di blog lo? Kalau ada, gue mau baca!

      Hapus
  8. Belum penah gue tulis karena itu malu-maluin banget. Gue sendiri juga kaget yang dari awalnya suka JKT, kenapa bisa lari ke dunia tulis menulis. Soon, ya!

    BalasHapus
  9. saya nulis karena kebutuhan. udah bagian dari kebutuhan, levelnya sama kayak makan. terdengar hiperbola... tapi pernah nyoba berhenti nulis, tp ga mampu. dari sd udah nulis soalnya... 10000 jam pertama yaitu menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya mengerti dan itu tidak hiperbola. Lagi pula, saya pun menulis setiap hari. Bedanya dengan kebanyakan orang, saya tidak menerbitkannya setiap hari.

      "Tidak menulis sehari akan membuatmu sakit, tidak menulis seminggu akan membuatmu gila." — A. S. Laksana

      Terima kasih sudah berkunjung, Mas Sabda.

      Hapus
  10. Hoooooo, ya ya, ternyata kita memulai kegiatan menulis pada tahun yang sama, pun dengan alasan yang sama pula. Bedanya, kesamaan kita pada bahasa. Saya memang suka bahasa Indonesia sih, tapi seketar suka, tapi ngga bisa-bisa amat wkwkw.

    Saya pun juga ngga suka membaca pas zaman SMK. Bahkan buku karya Raditya Dika sekalipun dulu pas saya baca, malah saya katain garing. Ga ngerti lagi gimana saya saat itu wkwkw.

    Memulai menulis karena tergugah sama tulisan Dara Prayoga, yang kemudian membuat jiwa ini berkata : Duhalah, kayaknya saya bisa deh nulis beginian. Sampai akhirnya, tulisan saya itu ga terbit-terbit sampai sekarang. HUAHUAHUHAU.

    Tapi bersyukurlah, saya sekarang menyukai dunia kepenulisan dengan blog sebagai moda utamanya.

    Eniwey, nais story Gip. Nais.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahahahahaha

      Saya terhibur! Terima kasih, Feb! Saya doakan semoga tetap nyaman dan terus menulis di blog, ya!

      Ceritamu juga bagus, dan lucu, tentu. *beer

      Hapus
  11. Jadi pengen kenalan sama ayah Anda.
    Kok jadi mirip sama ayahnya Reza ya? Apakah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan-jangan ayah saya dan ayahnya Reza teman sepergaulan?

      Hapus
  12. alur ceritanya bagus kalo di film kan mas, duduk di bangku sekolah, serinv remedial karena males, tapi karena jatuh hati jadi rajin wkwkwk

    BalasHapus
  13. Wah hampir sama dengan ak nih, nilai bahasa Indonesia ak juga tidak bagus-bagus amat dan ak pun juga sebetulnya tidak suka menulis, tapi ada aja hal opini dan pikiran bebas yang ingin di salurkan, dan jadi lah blog tempat pelampiasannya, haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak yang senasib ternyata. Saya tidak merasa sendirian lagi sekarang. Terima kasih sudah menemani rekam jejak saya, ya!

      Hapus