Belajar Menulis Lebih Rapi

Formalitas atau totalitas?

Gigip Andreas — Belajar Menulis Lebih Rapi
Kyle Glenn via Unsplash
Pada akhir Oktober kemarin saya membuat akun di salah satu platform menulis karya anak bangsa. Ceritanya tersasar ke sebuah ulasan seorang bloger dan tergiur oleh iming-iming bayaran. Dalam ulasannya dituliskan bahwa di platform itu, panjang atau pendek, semua tulisan kita akan dibayar.

Menurut beberapa senior yang saya baca ulasannya, harga bayaran dipengaruhi oleh isi tulisan dan jumlah kata. Selain itu, kita juga akan menerima pendapatan pasif dari hasil interaksi pembaca. Menarik sekali, bukan?

Namun, tidak semudah itu, Ferguso!

Saya bergabung ketika kebijakan platform telah berubah. Tidak semua tulisan mendapat bayaran. Sialnya lagi, tidak ada penjelasan konkret tulisan macam apa yang akan diberi bayaran. Waduh, niat mau mengumpulkan uang, kenapa malah jadi main tebak-tebakan?

Kabar baik: di sana saya bertemu banyak orang yang tahu banyak tentang kepenulisan. Kami membuat grup kecil-kecilan yang rutin melakukan bedah tulisan antaranggota, dan dari sinilah saya mempelajari berbagai ilmu baru secara gratis.

Kabar buruk: semakin banyak tahu kaidah penulisan, saya jadi merasa "berdosa" untuk meneruskan gaya menulis lama di blog ini—memakai bahasa Indonesia yang tidak baik dan jarang benar alias sembarangan; dapat menimbulkan gatal pada indra penglihatan.

Jadi, barangkali kamu bertanya-tanya kenapa saya menghapus semua tulisan lama di blog ini (dan mengganti kata ganti orang pertama), salah satu jawabannya ada di alinea yang barusan kamu baca.

Saya ingin mencoba gaya menulis yang lebih rapi. Meskipun, ya, saya setuju, sebenarnya tidak apa-apa kalau saya ingin mengabaikan pedoman penulisan. Toh, siapa saya, penulis buku bukan, hanya orang biasa yang gemar berekspresi melalui tulisan. Kendati demikian, menurut saya, bila kita memang paham dan mampu menulis sesuai aturan, kenapa tidak dilakukan—dan silakan baca ulang kalimat pertama dari paragraf ini.

Mundur lagi ke satu bulan sebelumnya. Jumat pagi di penghujung September, seorang teman mengabari lewat pesan di WhatsApp. Dia bilang, majalah daring tempatnya bekerja sedang mencari kontributor untuk mengisi artikel. Setelah berdiskusi panjang dan tertarik oleh bayaran yang diajukan, saya mengambil kesempatan itu. Kapan lagi saya bisa menulis 300-400 kata dihargai Rp25.000?

Masalah muncul ketika saya mulai banyak tahu kaidah penulisan. Selama ini, semua tulisan yang saya kirim pada majalah daring ditulis dengan penulisan yang buruk; banyak kekeliruan penggunaan kosakata, seperti misalnya, kata-kata untuk intrakalimat saya gunakan pada antarkalimat. Kenapa tulisan yang buruk itu bisa terbit—atau kenapa penyunting mereka tidak membenarkan kekeliruan saya?

Alih-alih bertanya, saya membuka beberapa majalah daring lain untuk melakukan "riset" dan perbandingan. Ternyata, luar biasa, majalah daring lain pun sama saja. Apakah jumlah penulis yang berpedoman pada PUEBI dan KBBI hanya sedikit? Entahlah. Bisa jadi memang banyak yang belum tahu. Bisa juga sebenarnya sudah tahu, tetapi memilih untuk abai.

Omong-omong, sejak bergabung di platform menulis (yang tadinya mau saya bangga-banggakan, tetapi tidak jadi karena sudah beberapa hari ini tidak bisa diakses—katanya sedang ada perbaikan server), saya mulai menulis sambil membuka KBBI. Faktanya, ada banyak kaidah penulisan yang baru saya tahu belakangan ini.

Ternyata, menjadi penulis itu, berat, ya?

15 Komentar

  1. Waw gips, selamat datang di dunia yang lebih seru

    Aku masih belum bisa full dengan bahasa Indonesia yg baik dan benar. Aku masih nulis dengan bahasa yang aku banget.

    Semoga pilihanmu selalu membaikkan dirimu ya gip

    Btw, rate segitu untuk contentwriter udah cukup lumayan loh. Kalo di platform lain, ada yg 25000 untuk 10 artikel. Tapi banyak juga yg rate nya tinggi, hohoooo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Kak Ros.

      Iya, banyak yang membayar lebih tinggi, tetapi lebih banyak lagi yang tidak manusiawi. Hahaha.

      Hapus
  2. Menurut saya pribadi sih, yang terpenting pesannya sampai dan bisa dipahami dengan baik. Menggunakan bahasa baku sepenuhnya atau separuhnya itu keputusan penulis. Perihal dibaca sampai selesai atau ditinggalkan di pertengahan karena kaku seperti kanebo kering, itu pilihan pembaca.

    Begitu, kan, Mas Gigip?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Karena (1) tidak ada pembaca yang betah dengan narator sadis, (2) memakai penulisan baku tidak harus menjadi kaku.

      Semua disesuaikan dengan kenyamanan, situasi, dan gaya penyampaian.

      Terima kasih sudah menambahkan, Mas Firman.

      Hapus
  3. Wadaw! Udah lama nggak main, sekalinya main, ternyata banyak perubahan di sana sini. Bagus, lanjutkan, Gip! Aku mendukungmu. Hoho.

    Sebenarnya bukan karena abai, melainkan karena kurang nyaman atau belum cocok. Soal gaya penyampaian, gue pribadi lebih nyaman dengan gaya gue yang seperti ini dengan gaya bahasa sehari-hari. Sedangkan untuk penulisan yang lain, misalnya seperti laporan atau paper, tentu beda lagi cara penulisannya. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk konteks nonformal (seperti blog pribadi), setuju, enggak apa-apa kalau mau pakai bahasa sehari-hari.

      Namun, untuk media (apalagi kalau isi kontennya serius), rasanya sayang saja bila tidak mau menulis sesuai ejaan. Setahu gue, salah satu media Indonesia yang mau menulis rapi itu CNN. Respek untuk mereka.

      Omong-omong, terima kasih untuk dukungannya, Bung!

      Hapus
    2. Yoi. Kalau media, apalagi yang udah besar kayak CNN, BBC, memang sepantasnya mengutamakan aspek penulisan yang baik dan benar sesuai kaidahnya. Entah bagaimana jadinya kalau media sekelas CNN artikelnya ditulis dengan gaya bahasa sehari-hari. :(

      Dengan senang hati, Gip. Sebagai teman memang seharusnya saling mendukung satu sama lain! \o/

      Hapus
  4. Waktu itu udah mau komentar, tapi di ponsel ternyata belum login, kemudian lupa. Haha. Sebetulnya, menulis memang bisa dikatakan suka-suka aja. Namun, jangan mengeluh kalau blognya sepi ketika pembaca pada kabur--seperti yang Firman tulis di komentar. Atau, pembaca cuma basa-basi gantian blogwalking. Bukan karena betulan suka sama karyanya. :)

    Mereka--para pembaca--kan punya hak untuk memilih. Kalau mau pembaca tetap betah mengikutinya sampai habis, ya enggak ada salahnya buat mempelajari tata bahasa. Bikin tulisan jadi lebih rapi. Eksperimen gaya. Dan seterusnya, dan sebagainya.

    Udah lebih dari dua tahun belajar, bahkan sampai ikut kelas-kelas menulis, tapi hasilnya masih kacau dan enggak ada perkembangan mah kebangetan. Wqwq.

    Intinya, sih, "baku bukan berarti kaku" seperti balasan lu ke Firman itu kuncinya. Selama ini, terutama setelah mengubah kata ganti "gue" menjadi "saya", kalimat itu yang gue pegang teguh setiap kali menulis, mengedit, hingga akhirnya bisa terbit di blog.

    Omong-omong soal bahasa, tenang aja, sebab ada pengecualian buat para seniman (penulis dan penyair). Mereka boleh melanggar peraturan demi sebuah keperluan. Contoh: kata "dan", "atau", serta "tapi" berada di awal kalimat. Mirisnya, kebanyakan para pelanggar itu kagak paham aturannya. Apalagi yang gue perhatikan, orang-orang ini juga malas buat belajar. Jadi, buat para bloger yang mau jadi penulis, jangan pernah menganggap menulis bagus itu mudah. Makan tuh karya! (ini buat diri sendiri juga) Bahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya sorotan gue di sini adalah penulis yang menulis di majalah daring (itulah kenapa yang gue riset hanya majalah daring), khususnya yang serius-serius, kayak misalnya, Kompasiana.

      Banyak yang bahas politik, berita bola, dan lain sebagainya, tetapi penulisan berantakan. Untuk blog pribadi, sih, gue enggak ada masalah kalau blognya memang dikonsep nonformal, kayak misalnya berisi catatan harian.

      Toh, bahasa slang juga memang termasuk variasi, kan.

      Tambahan: untuk majalah yang memang dikonsep nyeleneh kayak MalesBanget, gue rasa memang tepat kalau penulisannya tabrak kaidah karena disesuaikan dengan target pembaca dan tujuan mereka membuat tulisan.

      Tambahan lagi: gue pribadi belajar menulis sesuai kaidah karena mau nulis hal-hal serius di majalah daring. Hehehe.

      Hapus
    2. Iya, paham. Tapi Kompasiana termasuk platform kayak blog setau gue, sih. Itu enggak ada editornya. Jadi, semua tulisan yang dimuat tergantung si penulis, kan? Supaya rapi, ya mesti balik ke kesadaran para penulisnya itu lagi. Mau coba ngingetin atau mengkritik, tapi nanti gimana-gimana. Enggak semua orang bisa diperlakukan sama. Beda lagi sama media daring yang naskahnya ada proses penyeleksian. Rapi aja belum cukup. Mesti unik, tajam, sesuai dengan selera editornya, dll. Wqwq.

      Blog yang berisi catatan harian pun banyak yang lebih rapi daripada penulis dengan tema serius yang lu maksud itu. Sangat disayangkan aja. Gitu, kan?

      Wih, mantap. Semoga semakin berkembang. :)

      Hapus
    3. Iya, Kompasiana lebih ke penyeleksi daripada penyunting. Mereka enggak mengubah isi tulisan. Paling ngedit dikit-dikit, kayak misalnya lo nulis "dan" pakai simbol "&" di judul tulisan, nanti mereka edit jadi huruf.

      Hahaha. Iya, Yog. Banyak juga bloger yang cuma nulis catatan harian, tapi penulisannya lebih rapi, dan gaya penyampaiannya enak dibaca. Ironi sekali memang.

      Wah, makasih, ya. Lo juga, sukses selalu!

      Hapus
  5. Awal ngeklik saya sudah curiga, sebenarnya ada apa dengan masgip ini?
    Dan ternyata benar, berubah total setelah sekian lama saya tidak aktif membaca.

    Satu hal dalam benak saya adalah "wah, masgigip hijrah".

    Hum, semangat selalu ya buat masgip. Proud of you . walaupun saya membatin "yah, absurd nya ilang deh"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Rica.

      Terima kasih sebelumnya. Iya, saya sedang belajar menulis lebih rapi karena ada beberapa hal yang ingin dicapai.

      Saya masih menyukai komedi, kok. Hanya saja, porsi dan penyampaian yang mungkin akan berbeda; tidak sekonyol dulu. Entahlah, lihat saja nanti ke depannya. *peace

      Hapus
  6. saya juga belajar menggunakan bahasa EYD itukan, dan berasa kayak it's not me. Tapi ya sekarang masih menyesuaikan sih. Soalnya masih berasa ada beban sedikit ketika pakai bahasa yang baku gitu.. wkwkwkwkwk..

    Selamat berkarya terus mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gunakan bahasa yang nyaman dan tepatkan dengan tempatnya saja. Salam kenal juga, ya. Selamat berkarya!

      Hapus