Thursday, 25 October 2018

Maaf

Karena aku mencintaimu di setiap detik yang mendetak. Serta di setiap rindu yang menduri, dan di setiap luka yang meliku. Dan aku, sejak dulu, kini, atau esok, akan tetap mencintaimu.

Kalimat terakhirnya adalah dusta, tentu saja. Untuk kalimat-kalimat selanjutnya, kau boleh anggap aku menulisnya setelah meneguk dua botol minuman beralkohol, tanpa soda.

--

Kau benar jika menebak aku masih terjebak masa lalu. Pun benar jika aku selalu mengelak (kendati bisa menolak) setiap kau mengajak sebuah temu. Aku masih mengingat semua kenangan, tapi tidak ingin kembali jika kau belum ada perubahan.

Pergilah bertualang kenali dunia luar sampai kau bertemu hewan-hewan liar. Aku tidak sedang menjerumuskan, hanya saja ingin kau paham bahwa perasaan bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan.

Kau yang menyuruhku pergi dengan bibir penuh senyuman. Sekarang, kau juga yang ingin kembali dengan tatapan penyesalan.

Kemarin kau menghilang dan berpaling dari aku. Kini, datang lagi ingin berpulang seperti dulu. Menyesal? Siap-siap karma menyusul.

Janji memanglah seperti mata pisau—tumpul tidak berguna, tajam bisa bahaya. Dan yang harus kau ingat, tidak semua pisau digunakan untuk keperluan dapur. Tapi di tangan yang tidak tepat, pisau dapur pun bisa menjadi alat untuk membunuh.

Dan sekarang kau berhutang janji kepadaku. Sedang aku, masih berhitung kekecewaan terhadapmu. Kau mengeluh pada masa lalu penuh sesal, aku terbunuh oleh masalahmu berbekas lubang tak tertambal.

Dulu pada masanya, aku menerima sebanyak semua kekurangan yang ada dalam dirimu. Dan kamu, sedikit pun enggan untuk melihat ke arahku. Aku mencintaimu tanpa tapi, kau mengabaikanku tanpa kecuali.

Kau tahu? Kemarin aku rindu. Meskipun rindu selalu menduri. Aku pun tahu luka ini berliku. Tapi aku masih bergantung harap kepadamu. Sekarang? Seharusnya kau pun paham—yang lalu biarlah berlalu, esok hari akan menjadi lembaran baru.

Pernah menjadi hampir memang terkadang menyedihkan; aku hampir mempercayaimu, dan kau hampir menjadi milikku. Kita hampir menjadi satu.

Kau percaya pada kisah Happy Ending? Dulu aku tidak. Karena jika bahagia, kenapa harus menjadi akhir cerita?

Menurutku, dengan kisah yang bahagia, kita bisa pergi sejauh jarak yang kita inginkan. Kau boleh membawanya keliling Eropa untuk menemui tempat-tempat romantis seperti Paris, pun boleh mengajaknya duduk dengan dua cangkir kopi tambah gula yang manis.

Tapi aku mengerti. Mungkin, Happy Ending bukanlah kisah bahagia yang harus menjadi akhir cerita, melainkan sebuah kisah yang harus diakhiri agar lebih bahagia—tidak lagi saling memberi luka; seperti kita berdua.

Pada akhirnya, kita hanyalah dua orang yang pernah ceria terhias warna seperti senja, lalu hilang ditelan pekat oleh malam penuh gelap.

Senang pernah menjadi bagian dari hidupmu. Kelak jika kita ditakdirkan bertemu pada satu waktu, semoga saat itu kau sudah bahagia meski tidak (lagi) bersamaku.

Dari yang dulu pernah ada,
Aku—yang sesegera mungkin akan terlupa.

--

Dengarkan versi suara oleh N Firmansyah:
soundcloud.com/nurfirmansyah/maaf
Share to:

11 comments:

  1. Alamak...aku mencair...aku mencair...dan tak bisa berkata apa-apa...
    Mari iklaskan, mari ridokan hikhikhik..
    saya follow blognya ya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Saya bukan anak IPA, tapi saya paham hukum perubahan wujud suatu benda. Mencair adalah perubahan dari wujud padat (es) ke bentuk cairan (air).

      Pertanyaan: "Jika membaca tulisan patah hati membuat Anda mencair, apakah membaca tulisan kasmaran akan membuat Anda menguap menjadi partikel gas?"

      2. Anda tidak bisa berkata apa-apa tapi di kolom komentar itu Anda sudah berkata. Jika memang tidak bisa berkata, cobalah berangka (dalam bahasa latin—yang digunakan pada papan ketik perangkat Anda—tersedia angka nol sampai sembilan). Selamat mencoba!

      3. Terima kasih sudah follow blog saya. Jika berkenan, sekalian follow akun Bigo saya juga ya. Saya sering bikin seminar di sana.

      Sekian, salam.

      Delete
  2. Apakah Go-men adalah salah satu jenis aplikasi untuk menadahi menstruasi?

    dan...

    Blog Gigip ada admin puitisnya sekarang.

    guwd.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apakah Go-men sejenis aplikasi untuk menadahi menstruasi? Ya belum tentu. Tapi bisa jadi bila perlu.

      Terkait puitis, saya hanya ingin mencoba mengikuti jejak maha guru N Firmansyah.

      #SayaCintaNFirmansyah
      #TapiLebihSukaYogaAkbar
      #TapiHatikuTetapRansoeky

      Delete
    2. Mana gue pernah nulis puitis anjay

      Delete
  3. Sebentar...sebentar...
    Ino copas dimana ya tulisannya? BHahahhaa :lol:
    Kenapa ya kalo kesini tulisan yang serius pun selalu jadi kocak wkkkwkwkw :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bingung saya. Ini saya yang tidak bisa nulis serius atau selera humor Anda agak menyimpang ya? Kenapa tulisan galau diketawain cuy?! Huhuhu

      Delete
  4. Gatau lagi, auto sedih
    nyampe bawah masih terus penasaran, tapi ini bohong nya ga ada lo. Hem berati seriusan dong masgip wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa malah nyari bagian bohongnya? Ini bukan konten prank halo!

      Kalau nulis kan emang harus serius. Tapi nggak berarti apa yang kita tulis adalah apa yang kita rasain saat itu.

      Lagian ini tulisan lama kok. Baru aja diangkat ke sini. :p

      Delete
  5. hmmm, coba ksh ilustrasi gambar sedikit aja, biar menambah sedihnya.. tp gambar apa ya yg nyambung ama judulnya... judulnya misterius sih..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gomen itu bahasa Jepang cuy. Artinya Maaf.

      Delete