Sunday, 21 October 2018

Fluktuasi Glukosa

Semua orang pernah jatuh cinta dalam diam. Sebagian berhasil menyatakan tapi berujung bertepuk sebelah tangan, sebagian lagi hanya berakhir penyesalan karena memilih enggan untuk menyampaikan.

Malam itu, setelah nyasar berkali-kali karena alamat rumahnya susah dicari (dan gue masih pake Nokia butut yang belum ada fitur Maps), akhirnya gue sampai di depan pagar warna hitam. Duduk mematung di atas motor, kayak anak SMA yang lagi magang jadi sopir Gojek.

"Tunggu bentar, aku ke sana." katanya, lewat sebuah pesan. Mencoba melucu, gue balas: "Masih lama? Aku sampe keram nunggunya."

"Nunggu apa?"

"Nunggu kamu putus sama dia."

Dari motor, gue bisa melihat pintu rumahnya mulai terbuka. Lampu ruang tengah menyala, membuat gue jadi bisa mengintip sosok yang berjalan di balik pintu. "Lho, kok botak?" Oh ternyata itu kepala bapaknya.

Di ruang tengah ada banyak orang, kayaknya lagi ada tamu (semoga bukan acara lamaran). Sosok yang gue tunggu-tunggu pun muncul.

Dia pake piyama, rambutnya terurai panjang, mulai berjalan ke arah pagar dan berdiri di samping gue. Sambil membetulkan kacamata, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, "Lain kali kalau nyasar, tanya orang di jalan. Bukannya ngebom SMS ke aku. Kan aku nggak tau posisi kamu lagi di sebelah mana."

Sepuluh menit kemudian dia dipanggil oleh bapaknya. Gue udah pede, kirain bapaknya mau nyuruh gue masuk. Begitu dia balik lagi, ternyata bapaknya nyuruh beliin lem kertas.

"Terus, kita beli lem kertas, gitu?" tanya gue.

"Nggak. Kita membangun hotel. Iya beli lem kertas lah. Gimana sih."

"Santai. Saya datang dengan damai. Selow."

Selesai membeli lem kertas, gue sengaja bawa motor ke jalan raya, ke arah Istana Plaza. "Ih, harusnya lurus, kenapa belok?!" komplain dia. Gue jawab, "Selamat, Anda masuk di acara Mister Tukur Jalan-Jalan! Yuk, beredar bentar!"

Malam itu kami muter-muter sebentar. Nggak tau berapa menit, tapi kayaknya cuma 10-15 menit. Maklum, selain dia nggak pake helm, gue juga lagi males miskin kalau kena tilang.

Harus kalian tau, gadis yang gue bonceng saat itu adalah orang yang gue suka, selama tiga tahun di SMP. Kami belum pernah ngobrol secara langsung, tapi cukup sering SMS-an setiap malam. Terdengar freak? Gue emang nggak pernah berani nyapa dia, meskipun kami cukup sering berpapasan di kantin.

Pernah satu waktu, tanpa direncanain, kami duduk di satu angkot waktu mau berangkat sekolah. Jadi karena rumah kami satu arah, emang bakal ada kemungkinan satu angkot. Pagi itu kami duduk berhadapan, tapi saling diam. Bahkan waktu turun dari angkot pun, gue cuma jalan di belakang dia.

Di lain kesempatan, awal-awal kenaikan kelas, kami pernah satu kelas karena pembagian murid masih belum fix. Kami duduk sebarisan tapi dia di paling depan, gue paling belakang.

Kendati nggak pernah ngobrol langsung dan cuma akrab di SMS, gue cukup hafal beberapa hal dari dia. Gue tau ke arah mana dia akan menyisir rambutnya, gue tau kebiasaan apa yang dia lakuin sebelum tidur, gue tau kapan harus menjadi telinga dan kapan menjadi pembicara ketika dia bercerita.

Gue masih ingat, momen pertama gue ngeliat dia itu waktu masa awal-awal kelas satu. Gue lagi berdiri di depan Lab Komputer, nunggu giliran dipanggil untuk pembagian seragam. Dan dia, dengan segala kecantikannya, berdiri di lorong kelas, lagi ngobrol sama temennya.

Lulus dari SMP, dia masuk SMA YWKA. Waktu gue tanya, "Singkatan dari apaan?" dia jawab, "Yayasan Wanita Kereta Api."

KENAPA WANITA KERETA API HEY!

Kirain bohong atau cuma bercanda, ternyata emang itu kepanjangannya. Agak absurd sih.

Malam itu gue mengantar dia ke rumahnya. Bisa dibilang, itu adalah hari pertama kami bisa ngobrol secara langsung, sekaligus hari terakhir, karena setelah hari itu kami nggak pernah ketemu lagi, sampai saat ini.

Gue follow dia di media sosial. Sekarang dia udah hijrah menjadi hijaber dan udah bahagia sama pacarnya. Mungkin dalam waktu dekat bakal nikah.

Gue pernah, beberapa kali (saking banyaknya sampai lupa berapa kali) nembak dia. Selalu ditolak. Pernah sih diterima, sekali, tapi cuma pacaran dua minggu. Dia juga yang mutusin. Dan itu jadi yang terakhir kalinya gue nembak dia. Itu waktu kelas dua SMA, setahun setelah kami boncengan beli lem kertas.

"Tau nggak, kenapa aku selalu nolak kamu?" tanyanya, suatu waktu.

"Kenapa?"

"Karena kamu nggak pernah berani nyapa aku di sekolah. Padahal kita sering ngobrol di chat atau SMS. Kamu tuh sebenernya rame, asik, aku juga yakin perasaan kamu serius."

Gue tau, kalimat berikutnya bakal ada 'tapi', jadi gue inisiatif, "Tapi apa?"

"Tapi cinta itu harus dibuktiin pake tindakan, bukan cuma omongan."

Jatuh cinta dalam diam itu kayak gula. Manis, tapi kalau terlalu banyak dikonsumsi bakalan bikin diabetes. Makanya, sesekali beraniin diri untuk nyatain. Meskipun ada risiko ditolak dan rasanya pahit, tapi jamu yang pahit pun masih bisa dinikmati kan? Terlebih, semakin pahit jamu maka semakin tinggi khasiatnya.
Share to:

10 comments:

  1. Pas awal baca judul, kirain mau mengulas lagu PWG. Wqwq. Sebutut-bututnya HP Nokia lu, masih mendinglah. Gue SMP bahkan belum punya HP. Megang HP punya Bokap cuma berani di rumah buat main game Bounce. :(

    Penutupnya jadi keinget sama tulisan Ernest soal kritik. Ya, analogi jamu itu udah pasaran emang, sih. Ehe~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi. Itu aja gue pertama dengernya dari guru di SD, jauh sebelum Ernest nulis (artinya udah pasaran sejak gue masih SD). Kayaknya guru SD gue seumuran Ernest deh. Hahaha

      Eh gue malah belum pernah dengerin lagunya. Itu lagu Dochi kan aslinya? Sebelum akhirnya di-remake PWG.

      Wah anjir main Bounce. Itu bisa pake cheat nyawa sama cheat terbang lho. Kalau gue di Nokia hobinya main gameloft, download di Waptrick. Hahahaha

      Delete
  2. Tingkahmu mengingatkanku pada seseorang, si cowok yang hanya berani sms untuk mengobrol dan tidak berani bicara langsung tatap muka. Dia terdengar begitu bersahabat di SMS tapi bertingkah seakan dia tidak mengenalku saat kami bertemu. 🙄 Apa-apaan?! Itu menjengkelkan. Kalian para lelaki sok misterius sangat menyebalkan.

    Oh ya, aku sudah mengubah bahasa blogku menjadi bahasa Indonesia. Mungkin kamu ingin membacanya sekali lagi? Tidak ada banyak perubahan dalam arti. Haha... terserah. Aku tidak ingin membuang waktumu😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paragraf keduamu terbaca seperti narator di game Harvest Moon Back to Nature. Kaukah itu, Pak Walikota Thomas?

      Hey, jangan-jangan Anda adalah dia yang saya ceritakan? Jangan-jangan saya adalah dia yang dulu rutin mengirimimu SMS? Saya sudah berubah sekarang. Beri satu kesempatan lagi...

      ...bisa dimulai dengan tukeran nomor WhatsApp.

      Yhaaaaaaaaa~

      Delete
  3. Tapi kamu terlalu baik, tapi kamu lebih pantas jadi Abang aku, tapi kamu lebih pantas jadi ckckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komentar Anda tidak nyambung. Antek-antek Yose Suparto ya?

      Delete
  4. Ya begitulah yang namanya jatuh cinta dalam diam. Lebih banyak nyeseknya daripada manisnya (menurut gue). Nyeseknya, kita harus tegar ngelihat dia jalan sama orang lain. Ngedengerin dia cerita tentang cowo yang lagi dia taksir. Dan pada beberapa orang justru menyesal karena enggak mengungkapkannya.

    TAPI! Manisnya kita jadi lebih tau banyak tentang dia. Bisa deket banget sama dia. Bisa jatuh cinta lebih dalam lagi. Bisa ngejaga dia, bisa ngelakuin berbagai hal manis tanpa terhalang status, dan sebagainya.

    Gue setuju, cinta semestinya dibuktikan lewat tindakan. Karena tindakan bisa jadi poin plus di mata perempuan. :)

    Dari minggu kemarin gue pengin ngebahas ini sebenernya. Tapi karena lagi sibuk banget (yoi, semester ini gue super sibuk cyiin), akhirnya tak tunda dulu. Huhuhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener cuy. Orang yang jatuh cinta dalam diam itu biasanya kayak detektif. Selalu punya cara untuk tau tentang orang yang ditaksir.

      Cuma ya gitu, kalau nggak nyatain, risikonya keburu diembat orang lain. Hahaha.

      Gue pribadi tipikal pengagum diam-diam sih. Awalnya pantau sikon dulu, kalau ada lampu ijo, baru deh gue maju. Nggak sembarangan. :p

      Waduh. Semangat cuy, pokoknya sukses deh. Jangan sampai kedodoran. Stay cool!

      Delete
    2. Yoi. Penganggum diam diam diam tuh sebenernya tipikal pendengar yg baik. Ya, buktinya aja bisa tau banyak tentang orang yang ditaksir bahkan sekalipun engga main bareng.

      Dulu pun gue begitu pas masih SMA. Kalau naksir sama satu cewe, cerita itu cuma bisa dipendem sendiri karena engga berani buat mengungkapkannya. Huhuhu. Ya karena itu tadi, masih sekolah, tiap hari pasti ketemu lalu jadi bahan omongan. :(

      Sekarang gue udah punya keberanian yang cukup buat melakukan hal yang selama ini selalu gue hindari. Malah lebih ke bodo amat ya mau dikatain, digosipin, udah enggak peduli lagi. Hahaha. Sadar engga sadar lingkungan juga ngebentuk kita lho. :)

      Delete
    3. Nah. Terlebih gue nggak mau ngulang kesalahan yang sama. Makanya sekarang gue bisa lebih bertindak. Yah, nggak separah dulu lah.

      Sebenernya dulu tuh antara gengsi, takut ganggu dia, sama nggak siap bersikap sih. Takutnya pas ngobrol malah gerogi dan canggung gitu. Bukannya bisa PDKT malah bikin dia ilfeel. Hahaha.

      Tapi setuju. Semua emang butuh proses dan lingkungan (juga pengalaman) bakal ngebentuk kita cuy. Sekut!

      Delete